Cinta Pada Tamparan Pertama

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

penting Cinta Pada Tamparan Pertama

Post by mee on Thu Oct 04, 2007 1:00 am

Jojo jomblo, begitu teman-teman menyebutnya. Ada juga yang menyebutnya
Triple J. Terserah saja, seenaknya. Sepertinya Jojo juga enjoy menyandang gelar
jomblo yang diberikan teman-temannya. Cowok yang… yah, boleh dibilang rada
cakep ini, memang sudah berkomitmen untuk menjomblo selama masih SMA.


Banyak sudah
cewek-cewek dibuat frustrasi lantaran selalu diacuhkannya begitu mendekati.
Kemudian cewek-cewek lebih mengenalnya sebagai cowok yang sok jual mahal,
sombong, nggak romantis, dan sebagainya. Begitu banyak julukan yang mampir ke
dirinya, semua bermula dari sikapnya yang acuh itu. Dia memang berbeda dengan
jomblowan-jomblowan lain. Sebenarnya Jojo, atau Jo, senang tebar pesona,
gayanya selalu stylish, temannya keren-keren, kalau nggak keren secara
penampilan, ya keren secara wawasan yang kekini-kinian gitu, dan dia lebih suka
pada yang sepaham.


Dia begitu
mendapat nama bagi setiap penghuni SMA Timur Jauh 2 ini. Sebuah SMA terfavorit
sekaligus SMA termahal di kota
ini. Jojo memang anak kelas dua tapi temannya menyebar di setiap level kelas.
Siapa yang nggak kenal Jo, anak dirut perminyakan kondang di negeri ini?
Rasanya terlalu kurang gaul deh, kalau nggak kenal nama sekaliber Jonanta
Rafilan.


Liburan semester
II ini, Jo lebih memilih menghabiskan waktunya nonton TV di rumah atau sekadar
bermalas-malasan. Yang jelas, dia sudah terlalu malas untuk berlibur. Semua
tempat terbaik pernah dia kunjungi.


Saat dia sedang
menikmati pertandingan golf di saluran ESPN, tiba-tiba ponselnya bernyanyi.






“Ya?” Jo menjawab telepon.

“Kapan registrasi,
Jo?” terdengar suara Erwin, temannya, di seberang.


“Besok. aku ke
tempatmu dulu.” Klik! Begitulah. Singkat, nggak padat-padat amat, dan nggak
jelas-jelas amat juga.


Besoknya, Jo dan
Erwin mendatangi ruang TU untuk registrasi akademiknya. Suasana masih sepi,
hanya beberapa anak yang sudah melakukan registrasi. Mungkin karena masih ada
waktu panjang hingga dua minggu ke depan. Jo mengamati siapa-siapa saja yang
menjadi teman satu kelasnya nanti. Dia terkejut begitu melihat nama Jon Barota
masuk di kelasnya. Joba, panggilan Jon itu, lebih dikenal sebagai musuh besar
Jo. Mereka selalu berebut kekuasaan, selalu bersaing memperlihatkan siapa yang
terbaik di Timur Jauh. Berbeda dengan Jo, Joba dikenal suka gonta-ganti pacar.
Istilah kerennya player.


***

Liburan telah
usai, kini hari-hari sekolah aktif kembali. Santo Lucas ramai dengan cerita
seru setiap pagi. Apalagi ini baru mulai tahun ajaran, para siswa hampir belum
saling mengenal satu sama lain karena dulunya tidak satu kelas. SMA Timur Jauh
memiliki 30 kelas. Kelas I, II masing-masing 10 kelas, kelas III dibagi 3
jurusan, 4 kelas untuk IPA, 4 kelas IPS dan sisanya Bahasa. Di kelas yang
terakhir inilah, Jo akan menjalani hari-hari persaingan dengan rivalnya, Joba .


Seperti biasa Jo
berangkat lebih siang dari yang lain, hampir selalu terlambat. Padahal rumahnya
hanya berjarak dua kilometer saja dari sekolah. Itupun ditempuh dengan motor
gedenya. Mungkin maksudnya mau tebar pesona atau ingin punya ciri khas sendiri.
Kali ini pun begitu, saat memasuki gerbang sekolah, dia harus membayar lima puluh ribu rupiah
kepada satpam Gino. Sogokan biar bisa sukses masuk. Bukan hanya hari ini
tentunya, mungkin satpam Gino telah menerima 720 kali lima puluh ribuan darinya. Karena sudah dua
tahun ini Jo kalah cepat datang ke sekolah dibanding gerakan satpam Gino yang
menutup gerbang.

mee
The GrandMaster Gen-X™
 The GrandMaster Gen-X™

Female
Jumlah posting : 1231
Age : 28
Lokasi : disana senang disini senang, dimana-mana hatiku senang
Mood : I Hate MySelf, I Want To Die
Status : Confused
Registration date : 20.08.07

Lihat profil user http://www.mee666.multiply.com

Kembali Ke Atas Go down

penting Re: Cinta Pada Tamparan Pertama

Post by mee on Thu Oct 04, 2007 1:01 am

Suasana kelas tenang, hanya beberapa kelas I yang terlihat
masih duduk-duduk di teras karena belum ada wali kelas. Kelas Jo juga tampak
hening, nggak ada lagi kedengaran jeritan cewek-cewek ganjen yang biasanya
keluar tiap Jo lewat. Jo mengetuk pintu tanpa ragu-ragu dan tanpa menunggu
dibukakan, kepalanya langsung melongok ke dalam kelas.


“Selamat pagi,
Pak!” sapa Jo pada guru sejarah dengan mimik memelas. Fiuh! Untunglah dia
memilih jurusan Bahasa, jadi nggak ketemu lagi dengan pelajaran biologi yang
diberikan Bu Ida. Kalau Bu Ida ngelihat Jo telat lagi seperti ini, bisa-bisa ia
memberi ‘les privat’ he he he… Ya… mungkin disuruh membaca buku dengan vokal
diganti huruf “i” semua atau menghitung butiran nasi pada makan malamnya selama
tujuh hari berturut-turut atau sekadar duduk di meja guru sementara Bu Ida
duduk di bangkunya. Pokoknya konyol dan nggak meaning deh.


Jo menganggap
karena nilai biologinya merah, dia tidak bisa masuk IPA. Meskipun kimia,
fisika, dan matematikanya di atas delapan semua. Begitulah aturan sekolah, di
antara keempat pelajaran itu tidak boleh bernilai merah. Apalah daya Jo ketika
Bu Ida memberinya nilai itu.


Dia tidak dapat
tempat duduk lagi, satu-satunya yang tersisa hanyalah di depan meja guru. Ada seorang cewek yang
telah menempatinya, Jo pun terpaksa duduk di situ.


“Hei aku Rara,
pindahan dari SMA Timur Jauh Surabaya,” cewek itu memperkenalkan diri.
Senyumnya lebar penuh pengharapan. Jo hanya menengok dua detik lamanya, matanya
seolah bertanya “Siapa sih, Lo?” lalu berbalik lagi menghadap whiteboard yang
bertuliskan kerajaan-kerajaan lama di Indonesia. Rara yang di sebelahnya
pun bete.


“Jo itu jomblowan
sejati. Dia tidak sembarang terima teman, jangan heran kalau dia menolak kamu
saat diajak kenalan. Begitulah Jo, dia selalu menatap seseorang dengan sejenak,
lalu memutuskan cocok atau tidak,” ujar Nindi, cewek yang satu kelas dengan Jo
dan Rara memberi penjelasan pada teman barunya. Rara hanya mengangguk keheranan.





Suatu hari, saat jam istirahat
pertama, Joba menghampiri Rara yang duduk di sebelah Jo. Selamanya begitu
memang, mereka sudah mempunyai pasangan duduk masing-masing.


“Ehm! Ke kantin
yuk, Ra!” Joba menepuk pundak kanannya dengan lembut. Rara nggak ngerti maksud
Joba mengajaknya makan tapi dia mengangguk setuju.


“Aku juga udah
terlalu males duduk di sini,“ katanya. Jo hanya diam walau dari matanya tampak
kilat tak suka. Aneh, kenapa kali ini dia ngerasa Rara telah direbut darinya,
ya? Mereka meninggalkan Jo sendirian.


“Kurang ajar! Ini
penghinaan!!” geramnya dalam hati. Segera dia berlari keluar kelas mencari
teman genknya. Akan dia ceritakan apa yang baru saja membuatnya hampir
merobohkan gedung sekolah ini. Akan disusun siasat yang jitu untuk menjatuhkan
Joba dan menenggelamkannya, selamanya.


“Wah, kalau gitu
caranya kamu kalah, Jo!” sergah Reza, anggota genknya.


“Bener Jo. Mending
cari cara lain aja!” yang lain mengiyakan.


“Terus, aku harus
bagaimana?” ujar Jo, menyimpan sementara emosinya.


“Triple J adalah
seorang jomblo, sementara Jon Barota adalah sang player yang lihai. Jelas saja
kamu nggak punya tempat di hati cewek-cewek. Mereka pasti lebih ngikutin yang
playboy daripada jomblowan kayak kita,” Reza memberi analisa yang nggak
ketahuan apa maksudnya.


“Dengan kata lain,
kamu harus melepas gelar jomblo dulu, baru kamu menang atas Joba,” tambahnya.


“Nggak!! Aku yakin
dengan predikat jomblo ini, aku bisa mempermalukan Joba!” emosi Jo meluap-luap.


***

_________________
Love Is Blind

mee
The GrandMaster Gen-X™
 The GrandMaster Gen-X™

Female
Jumlah posting : 1231
Age : 28
Lokasi : disana senang disini senang, dimana-mana hatiku senang
Mood : I Hate MySelf, I Want To Die
Status : Confused
Registration date : 20.08.07

Lihat profil user http://www.mee666.multiply.com

Kembali Ke Atas Go down

penting Re: Cinta Pada Tamparan Pertama

Post by mee on Thu Oct 04, 2007 1:01 am

Merasa masih kalah dari saingannya, Jo menyusun siasat
jitu. Kali ini dia meminjam mobil ayahnya buat pasang muka. Dengan strategi
yang sudah diracik sedemikian matang tadi malam, Jo memasang mimik memelas.


”Ehh, Ra. Pulang
sekolah mau ke mana? Ada
acara?” tanyanya pada teman sebangkunya itu. Rara tampak sedikit terkejut
dengan sapaan Jo yang nggak biasanya. Walau melihat ada yang janggal, dia
menjawab juga.


“Langsung pulang
sih. Kenapa Jo?”


”Hmm… kalau gitu
ntar pulang bareng, mau nggak? Aku antar?”


Rara makin yakin,
ada yang kurang beres. Tapi, dia malah mengiyakan ajakan Jo. Berhasil! Jo pun
tinggal menyusun rencana, agar Joba melihat Rara pulang dengannya hari ini.





Sejauh
ini triknya berjalan mulus-mulus saja. Sesuai yang dijanjikan, mereka pulang
bersama-sama. Di tengah jalan, Jo membelokkan mobilnya ke sebuah rumah makan.


“Makan dulu ya,
laper.” Jo tak membiarkan Rara menolak ajakannya. Rara setuju. Mereka duduk di
meja pojok, pilihan Jo, agar leluasa melihat siapa-siapa yang mampir ke rumah
makan itu. Orang yang ditunggunya datang juga, Joba dengan langkah mantap
memasuki rumah makan tanpa seorang teman pun. Bergegas menghampiri Jo dan Rara
yang tengah asyik menunggu pesanan.


Jo pura-pura tidak
melihat, Joba menarik kerah baju agar berdiri. Tangan lainnya terkepal siap
memukul. Rara kebingungan.


“Eh, apa maksudmu
nantang aku di rumah makan ini. Nih, aku sudah datang, sendirian! Kamu mau
apa?!!” Joba memaki dan membentak-bentak Jo. Jo tenang-tenang saja, tak
sedikitpun terpancing emosi.


“Kamu kalah Joba.
Lihat! Rara sudah jadi milikku,” Jo berbisik di telinga Joba.


Joba berpaling ke
arah gadis yang dimaksud Jo dengan sangat terkejut. Dia sempat ingin mengatakan
sesuatu tapi urung dilakukan. Seketika itu juga, dia pergi meninggalkan mereka.
Jo mencoba tersenyum ketika Rara menatapnya terheran-heran. Dia kembali
menempati kursi sementara Rara masih berdiri.


”Oh, jadi maksudmu
ngajak aku pulang bareng biar kamu merasa menang dari Joba? Itu aja? Hah! Aku
pikir, kamu sudah mulai bersahabat, Jo,” kata Rara ketus.


“Terus kenapa?
Biar gimanapun, Joba nggak akan bisa ngalahin Jojo!” balas Jo, terpaksa jujur
karena siasatnya terlanjur ketahuan oleh Rara.


“Sorry, Jo, aku
nggak bisa terima perlakuan ini. Aku pulang!”


Jo segera menarik
tangan Rara.


“Cuma karena
masalah kecil ini?”


“Masalah kecil
kamu bilang? Kamu sudah mempermalukan aku, ngerti?”


“Cuma begini
mempermalukan? Kalau kamu ditelanjangi di depan umum baru…”


PLAKK!!!

Belum selesai
kalimat Jo terucap, sebuah tamparan mendarat sukses di pipi kirinya.


“Tolong ngertiin
perasaan aku, Jo! Aku berusaha ngertiin sifat kamu yang nggak jelas itu karena
aku menganggap kamu sama seperti teman lain. Mau mereka sebut kamu ‘pembunuh
berdarah dingin’, cowok pendendam, si cuek yang kaya raya, aku nggak peduli.
Aku tetap mau berteman, tapi kamu… kamu sudah merusaknya, Jo!” Rara pergi
meninggalkan Jo sambil berlari keluar rumah makan. Jo hanya terdiam dan tidak
mampu berbuat apa pun dalam keadaan ini. Sebelumnya, nggak ada tuh kejadian
yang benar-benar menyentuh perasaannya seperti ini.


Malamnya,
Jo tidak bisa tidur. Gelisah berbaring di kasur empuknya, di dalam kamar dengan
jendela terbuka dan hanya disinari bulan yang sedang penuh. Dia terus teringat
tamparan Rara yang dirasakannya, sangat hangat. Dia malah menyukai tamparan
itu. Entahlah, kenapa dia senekat itu menantang Joba demi anggapan mampu
merebut Rara dari hati Joba. Dia takut, kalau Rara malah akan semakin akrab
dengan Joba nantinya. Sepertinya, kali ini dia bukan memikirkan kalah dari
Joba. Lebih dari itu, dia takut sekali Rara berpacaran dengan Joba.


“Apakah aku sudah
jatuh cinta pada Rara?” katanya malam itu. “Ah! Aku kan biasa nyuekin dia… tapi aku takut banget
kehilangan dia.” Makin lama, matanya terpejam dan dia bermimpi indah bersama
Rara.


***



“Aku minta maaf.
Aku nggak tahu gimana caranya ngomong ini ke kamu. Kemarin itu memang bodoh
banget. Aku suka kamu tapi aku nggak tahu harus gimana…”


Rara hanya bengong
ketika tiba-tiba Jo menghampirinya di depan gerbang sekolah. Biasanya Jo datang
paling akhir, tapi ini masih setengah jam lagi masuk sekolah, dia sudah ada.


“Kamu sehat, Jo?”

“Kamu maafin aku
nggak?”


Rara diam sejenak.
Lalu mengangguk dan mengiyakan dengan mantap.


“Gara-gara kamu
tampar aku kemarin, aku ngerasa kalau aku suka sama kamu,” kata Jo tanpa ragu-ragu.


“Apa ini kebiasaan
kamu? Langsung ke pokok permasalahan?” balas Rara.


“Itulah aku. Nggak
suka basa-basi,” jawab Jo.


“Kita lihat nanti
saja, ya!”


“Tapi aku suka
kamu, Ra.”


“Terus?” kata Rara
sambil pergi meninggalkan Jojo.


“Terus? Iya ya…
terus apa?” ucap Jojo sambil menggaruk-garuk kepalanya.




_________________
Love Is Blind

mee
The GrandMaster Gen-X™
 The GrandMaster Gen-X™

Female
Jumlah posting : 1231
Age : 28
Lokasi : disana senang disini senang, dimana-mana hatiku senang
Mood : I Hate MySelf, I Want To Die
Status : Confused
Registration date : 20.08.07

Lihat profil user http://www.mee666.multiply.com

Kembali Ke Atas Go down

penting Re: Cinta Pada Tamparan Pertama

Post by Sponsored content Today at 6:07 am


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik