[artikel] KARMA, AKARMA, VIKARMA

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

penting [artikel] KARMA, AKARMA, VIKARMA

Post by Unregist on Thu Aug 23, 2007 2:30 am

Salam kasih, Svastyastu,

Dalam Bhagavad-gita, dengan begitu indahnya dijelaskan oleh Shri
Krishna mengenai jenis karma (perbuatan). Shri Krishna bertujuan
membantu Arjuna untuk menghilangkan keraguan dan ketidaktahuannya akan
apa yang harus ia lakukan dalam menghadapi bahaya perang maha dahsyat
Bharata Yuddha.

Arjuna mengeluh, bagaimana saya bisa mengangkat senjata, melepaskan
anak panah kepada sanak saudara sendiri, "rajya-sukha-lobhena"
disebabkan kelobaan untuk mendapatkan kesenangan kerajaan, "svajanam
hantum" - untuk itu saya harus membasmi mereka semua?! Arjuna juga
menyesali suasana menjelang perang tersebut, merasa cemas karena jika
perang terjadi, ia harus pula membunuh para guru dan orang-orang tua
yang ia hormati dan sembah (gurun ahatva hi mahanubhavan). Jika harus
mendapatkan kemegahan kerajaan dengan melakukan perbuatan tersebut,
membantai mereka semua, Arjuna mengumpamakan dirinya sebagai memakan
makanan yang digenangi oleh darah. Ia mengatakan tidak akan berperang
dan akan memilih hidup mengemis daripada menjadi raja tetapi saling
bantai dengan sanak saudara demi harta, kerajaan dan harga diri.
Demi menghilangkan kekacauan pikiran Arjuna tersebut dan demi
menunjukkan Kebenaran kepada Arjuna, Shri Krishna akhirnya mengajarkan
ajaran rahasia mengenai Karma atau perbuatan.
"Kim karma?" - apakah yang dinamakan perbuatan? "kim akarma?" - dan
apa pula yang dinamakan tidak melakukan perbuatan? Para resi maharesi
pun mengalami kesulitan untuk menyingkap tabir rahasia karma tersebut,
"kavayo'py atra mohitah". Demikianlah akhirnya Shri Krishna membeberkan
rahasia tentang karma, yang diringkas kedalam tiga jenis, yaitu Karma,
Akarma dan Vikarma.
Karma merupakan perbuatan/aktivitas yang pada umumnya kita lakukan sehari-hari, yang batasnya hanyalah di lingkungan baik dan buruk. Kita
berbuat baik, akan menghasilkan pahala baik, jika kita berbuat buruk,
kita akan menghasilkan atau memperoleh pahala buruk pula. Lebih jauh…,
perbuatan buruk akan mengantarkan kita ke alam-alam bawah, atau
neraka-neraka dengan pembagiannya yang sangat rapi, siapa berbuat apa
akan pergi ke mana dan mendapatkan siksaan macam apa selama berapa
waktu, entah ke alam bawah bernama Tala, Tala-Tala dll yang banyaknya
tujuh jenis, atau kalau orang berbuat baik akan mendapatkan hasil-hasil
baik, pahala-pahala yang mengantarkan mereka menuju alam-alam lebih
tinggi yang dinamakan surga (ada tujuh tingkat). Terhadap Karma baik
yang mengantarkan orang-orang dapat pergi dan menikmati di surga-surga
tersebut Shri Krishna memberikan kesimpulan "ksine punye", bahwa kapan
pahala perbuatannya habis dinikmati di Surga, maka ia akan kembali lagi
menjelma ke dunia ini (martya-lokam visanti).

Akarma, adalah perbuatan yang tidak berbuat, atau tidak berbuat
didalam berbuat. Karma dalam tingkat ini dinamakan Visuddha Karma,
yaitu perbuatan/aktivitas yang tidak lagi menghasilkan buah baik atau
buruk, melainkan ia mengantarkan orang kepada alam di luar Surga-Surga,
yaitu alam pembebasan, alam Vaikuntha, alam yang telah sepenuhnya bebas
dari segala jenis kecemasan. Saya tidak menyinggung jenis dan macam
karma dalam level ini, dengan kecemasan akan bermunculan orang-orang
yang menganggap dirinya telah berada di dalam level itu.
Amit-amit…soalnya sudah mengalami menyampaikannya kepada yang belum
memenuhi syarat, bahkan akhirnya ia menganggap dirinya atau orang lain
yang sekadar memiliki "kelebihan" (bisa dibaca: kekurangan) sebagai
Avatara, atau anak, misan, istri, dll-nya sebagai penjelmaan dewa
ini-itu…

Vikarma, adalah perbuatan yang dianjurkan oleh kitab suci untuk
tidak dilakukan. Acharya Shridhara menunjuk perbuatan Vikarma pada
pengertian perbuatan Adharma, yaitu perbuatan-peruatan yang
bertentangan dengan ajaran-ajaran agama.

Resi Daksa memberikan 9 (sembilan) jenis perbuatan yang dikelompokkan kedalam Vikarma, a.l.:

1. Anritam karma, yaitu perbuatan yang penuh berada dalam kebohongan, perbuatan yang tidak berada di dalam kebenaran.
2. Paradara karma, yaitu perbuatan berselingkuh dengan istri orang.
3. Abhaksya-bhaksanam karma, memakan makanan yang dilarang oleh
kitab-kitab suci, atau makanan-makanan yang menjatuhkan kesehatan,
sifat keagamaan dan spiritualitas.
4. Agamyagamanam karma, menggauli wanita bermoral rendah, atau
wanita yang sedang tidak boleh digauli sesuai dengan adat-tradisi atau
bahkan istri sendiri selama masa tertentu. Mengenai Agamyagamana karma
ini, saya pernah menulis di Harian Bali Post sekitar tahun 1980-an,
menanggapi hukum adat di Bali tentang "Gamya-gamana". Kalau dalam
masalah lain terjadi kesalahan penggunaan bahasa Sanskerta, mungkin
masih bisa diterima. Tetapi, mengingat ia adalah masalah hukum, maka
saya meminta sebaiknya diadakan perbaikan, sebab Gamya-gamana itu kalau
diterjemahkan akan berarti menggauli wanita yang patut digauli. Lalu,
jika Gamya-gamana dikenakan hukuman atau sangsi adat, berarti 99,9
persen penduduk laki Bali yang sudah berkeluarga harus menjalani
hukuman (manawi kenten kocap…mudah-mudahan saya tidak salah…).

5. Apeyapanam karma, yaitu meminum minuman terlarang.
6. Steyam karma, yaitu kegiatan mencuri.
7. Hingsanam karma, dimaksudkan adalah perbuatan kekerasan,
menyakiti yang lain termasuk binatang tanpa alasan yang dibenarkan
kitab-kitab suci.
8. Asrautrakarmacaranam karma, berarti perbuatan yang bertentangan dengan ajaran-ajaran Veda.
9. Maitradharmabahiskritam karma, adalah tidak melakukan sembahyang
atau kewajiban spiritual sehari-hari. Terhadap jenis no.9, beberapa
komentator berpendapat ia bukan merupakan kegiatan yang dilarang
melainkan kegiatan yang melanggar petunjuk-petunjuk kitab suci yang
wajib dilaksanakan.
Mengingat penjelasan masalah karma lumayan "complicated", alias
rumit dan sulit dipahami, sebuah anjuran sederhana dapat disampaikan di
sini adalah: apa pun yang kita lakukan, lakukanlah sebagai persembahan
kepada Tuhan YME. Dan itu memang adalah perintah Tuhan sendiri, "..tad
kurusva…" - lakukanlah segala apa yang kau lakukan… "mad arpanam…" -
sebagai persembahan kepada-KU. Dengan cara sederhana spt itu, kita akan
menciptakan batas-batas perbuatan untuk diri kita, secara jujur, jujur
kepada diri sendiri, dan itulah jalan yang paling selamat, yang jauh
dari kepura-puraan.

Semoga ada manfaat dalam artikel ini…, manggalam astu…semoga semua diberkahi…

Unregist
Tamu


Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik